Mengetahui
Tentang Gejala, Faktor, dan Risiko Stroke
Lutfiah
Maulidia
S.Tr
Keperawatan Lawang
lutfiahmaulidia00@gmail.com
Abstrak. Penyebab umum terjadinya stroke
berasal dari kesadaran diri dan lingkungan masyarakat seperti pola hidup yang
tidak baik dan sehat sehingga terdapat kutipan yang menyatakan “stroke adalah
penyebab kematian tertinggi di wilayah perkotaan yang jumlahnya mencapai 15,9
persen dari proporsi penyebab kematian di Indonesia” (Depkes, 2008). Oleh
karena itu dibutuhkan suatu penyuluhan masyarakat awam agar mereka dapat
mengurangi faktor risiko stroke sejak dini dan menerapkannya. Pengertian stroke
secara umum merupakan tersumbatnya pembuluh darah yang menuju ke otak akibat
adanya kolesterol yang menjadi plak sehingga aliran darah yang kaya oksigen
menjadi terhambat. Stroke diklasifikasikan menjadi stroke iskemik dan stroke
hemoragis (perdarahan). Faktor risiko yang dapat menyebabkan stroke, yaitu
hipertensi, obesitas, diabetes mellitus, dan terhindar dari stress. Sehingga
dapat ditarik kesimpulan bahwa yang paling banyak terserang stroke adalah orang
yang memiliki riwayat hipertensi dan kolesterol tinggi. Untuk menunjang agar
stroke tidak memburuk maka didukung dengan makanan yang tinggi serat, rendah
lemak & kolesterol.
Kata
kunci: Gejala, Faktor, dan Risiko Stroke
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Stroke merupakan penyakit paling banyak terjadi
dikalangan masyarakat yang disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap
pola hidup sehat yang semakin berkurang, sehingga diharapkan adanya penyuluhan
yang dapat membuat masyarakat menjadi mengerti tentang bahaya dan dampak dari
makanan-makanan yang mereka konsumsi dan dari aktivitas sehari-hari mereka. Adanya
lingkungan disekitar yang dapat mendukung agar kegiatan tersebut dapat
terlaksana dengan baik juga perlu. Seperti kita ketahui bersama bahwa penyebab
utama dari stroke adalah terhambatnya aliran pembuluh darah karena adanya
kolesterol yang mengerak sehingga asupan oksigen dan darah ke otak menjadi
terganggu sehingga diharapkan adanya kesadaran dari masyarakat sendiri betapa
pentingnya dalam mengatur aktivitas dan pola makan agar tubuh tetap sehat. Banyak
faktor yang dapat ditimbulkan dari pola hidup yang tidak sehat seperti stroke,
hipertensi, jantung koroner, obesitas dll. Peran utama yang dibutuhkan adalah
dalam lingkup keluarga untuk saling mengingatkan dan membiasakan sejak dini
agar dapat menerapkan pola hidup yang sehat sehingga terhindar dari
penyakit-penyakit berisiko. Dengan adanya pelayanan kesehatan yang profesional
di lingkungan sekitar, penyuluhan dapat menjadi jembatan bagi mereka untuk
melakukan pendekatan pada masyarakat, sehinga pelayanan dapat terlaksana dengan
baik. Selain itu dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas agar kegiatan
tersebut dapat berjalan lancer dan sesuai tujuan.
PEMBAHASAN
Pengertian Stroke
Stroke saat ini menyerang pada siapapun, biasanya dulu
stroke sering diderita pada orang lanjut usia. Tapi sekarang stroke telah
menyerang siapa saja, baik itu muda ataupun tua. Oleh karena itu sebaiknya
sejak dini biasakan hidup sehat seperti olahraga rutin dan makan makanan yang
bergizi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (dalam Listiyana 2013) tahun
2007 menyebutkan “bahwa kelompok usia 45-54 tahun beresiko tinggi terkena
penyakit serangan jantung atau stroke”. Apa sih stroke itu? Mari kita ketahui
lebih dalam tentang stroke. “Stroke adalah penyebab kematian tertinggi di
wilayah perkotaan yang jumlahnya mencapai 15,9 persen dari proporsi penyebab
kematian di Indonesia” (Depkes, 2008).
Definisi stroke menurut WHO (2014), adalah
“terputusnya aliran darah ke otak, umumnya akibat pecahnya pembuluh darah ke
otak atau karena tersumbatnya pembuluh darah ke otak sehingga pasokan nutrisi
dan oksigen ke otak berkurang”.
Klasifikasi Stroke :
Terdapat dua golongan
faktor risiko jantung dan stroke, yang pertama faktor yang tidak dapat diubah
seperti usia, riwayat keluarga, ras, dan jenis kelamin. Sedangkan faktor yang
dapat diubah, antara lain rokok, tekanan darah, kadar kolesterol dan lemak,
diabetes melitus, obesitas, dan aktivitas fisik (Siagian, 2007).
Menurut
Marliani (2007), stroke dibagi dua, yaitu a) stroke iskemik,
“jenis ini paling
sering dijumpai. Terjadi karena pembuluh darah arteri tersumbat plak yang
timbul karena tekanan darah tinggi ataupun penumpukan lemak. Akibatnya, aliran
darah ke otak tak lancar Stroke iskemik meliputi kurang lebih 88% dari semua
stroke”. Stroke
iskemik dibagi menjadi 3, antara lain stroke trombotik yang disebabkan
tersumbatnya pembuluh darah di otak sehingga aliran darah tidak lancer. Stroke
Embolik disebabkan adanya material embolus (benda asing) yang terbentuk. Hipoperfusi
Sistemik disebabkan kerja organ sistemik yang melemah. b) “stroke
perdarahan, atau biasa dikenal dengan stroke hemoragis, disebabkan
pembuluh darah bocor atau pecah di dalam otak. Darah yang menggenangi otak
membuat fungsi otak terganggu”. Stroke
perdarahan terbagi menjadi dua yaitu pendarahan subarakhnoid disebabkan
pecahnya pembuluh darah atau darah yang tidak normal sehingga darah melewati
permukaan otak dan masuk ke subarachnoid.
Sedangkan
pendarahan intraserebral adalah pendarahan yang langsung masuk ke jaringan otak
yang disebabkan karena hipertensi sehingga pembuluh darah arteriol rusak.
Dampak dari Stroke
Dikutip dari Soeharto (2002), pengaruh dari cidera
otak bagian kiri berdampak pada tubuh bagian kanan, begitu juga sebaliknya.
Seperti contoh cidera otak bagian kiri akan menyebabkan kelumpuhan tubuh bagian
kanan, gangguan pada bicara atau menulis, tingkah laku menjadi lamban, berkurangnya
memori, dll. Sedangkan cidera pada otak bagian kanan akan menyebabkan
kelumpuhan tubuh bagian kiri, kretivitas menurun, tingkah laku menjadi
impulsive, dll.
Berdasarkan
lokasinya, stroke terbagi menjadi tiga menurut Utami (2009:7), yang pertama
adalah sistem saraf pusat, yaitu melemahnya otot (hemiplegia), kaku, dan fungsi
sensorik yang mengalami penurunan. Kedua adalah batang otak, yaitu lidah yang
melemah, menurunnya fungsi panca indera, terganggunya ekspresi wajah, kemampuan
reflex, dan detak jantung. Terakhir adalah sulit berbicara, yaitu sulit
menggerakkan anggota badan, menurunnya daya ingat, kelumpuhan salah satu sisi
badan, dan mengalami kebingungan.
Menurut Rumahorbo, dkk (2014:5) stroke
biasanya ditandai dengan adanya gangguan saraf yaitu, terjadi
penurunan kesadaran dan gangguan fungsi luhur, gangguan sensorik, kejang,
gangguan lapang pandang penglihatan, quadriparesis, paraparese, gangguan gerak
bola mata, dan terakhir gangguan menelan. Gangguan fungsi luhur seperti bahasa yang
digunakan sehari-hari kadang tidak beraturan, tak mengenali tata ruang, gangguan dalam
berhitung, tulisan
sering tidak beraturan, gangguan pada saat membaca, sering lupa dengan
nama orang ataupun barang,
dan gangguan
memori atau sering lupa.
Adapun
gangguan sensorik yang yang biasanya dialami penderita stroke adalah baal yaitu
terjadi kesemutan disalah satu sisi atau disekitar mulut, yang kedua terjadi
gangguan pengecapan, dan ketiga mengalami nyeri di satu sisi
Kejang
terbagi menjadi fokal (disalah satu bagian tubuh saja), kejang umum (terjadi
seluruh tubuh), kejang absans (kejang lalu berhenti sebentar, kemudian kejang
lagi, terjadi secara berulang-ulang)
Gangguan
lapang pandang penglihatan seperti ditandai dengan tiba-tiba buta di salah satu
mata atau keduanya dan gelap di satu sisi atau adanya spot hitam disekitar
pandangan.
Quadriparesis
adalah lemah keempat anggota badan, paraparese adalah lemah kedua kaki, gangguan
gerak bola mata, gangguan menelan.
Pencegahan
Stroke
Pencegahan stroke dapat dimulai
dengan berusaha agar tidak terserang obesitas, hipertensi, diabetes mellitus,
dan terhindar dari stress, berikut penjelasannya. Dikutip dari
Pinzon & Asanti (2010:7) “hipertensi akan memicu pembuluh darah kecil
(mikroangiopati) menjadi kaku. Hipertensi juga memicu adanya plak
atherosklerotik di dalam pembuluh darah besar yang menyebabkan pembuluh darah
menjadi sempit”. Menurut (Lingga, 2013) “diabetes mellitus menyebabkan laju
penuaan sel berlangsung sangat cepat akibat kadar glukosa yang tinggi disertai
kerapuhan pembuluh darah, sehingga berisiko tinggi terhadap hipertensi dan
penyakit jantung yang akhirnya meningkatkan risiko serangan stroke”. Menurut Mianoki (2014) “pasien obesitas/
kegemukan memiliki tekanan darah, kadar glukosa darah dan serum lipid
yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami
obesitas. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya stroke”. Menurut Yusuf (2016) “hindari stress dan
deperesi karena salah satu penyebab risiko stroke. Kedua masalah ini akan
menggangu bahkan dapat menimbulkan korban fisik. Jika tidak dapat diatasi maka
kedua hal ini akan menimbulkan masalah yang berkepanjangan”.
Oleh karena itu cegah hal-hal seperti di
atas agar risiko terkena stroke tidak meningkat. Atur pola makan dan asupan
makanan.
Dampak
dari stroke salah satunya adalah kelumpuhan. Skala kelumpuhan akibat stroke
menurut Neil F. Gordon (2017) digolongkan menjadi skala 1 yaitu, hal-hal ringan
masih dapat dilakukan. Skala 2 yaitu, ada beberapa hal yang tidak bisa
dilakukan, tapi terkadang ia membutuhkan bantuan orang lain. Skala 3 yaitu, sudah
butuh bantuan orang lain, tapi ketika berjalan biasanya masih berusaha
melakukannya sendiri meski dengan bantuan tongkat. Skala 4 yaitu, sudah tidak
dapat berjalan sendiri dan untuk melakukan segala hal membutuhkan bantuan orang
lain. Skala 5 yaitu, kondisi pasien sudah tidak dapat beraktivitas apapun,
pasien sangat bergantung pada orang lain dan membutuhkan perhatian yang lebih dari
orang yang merawatnya.
Makanan
untuk mengurangi kolesterol
Makanan yang berpotensi
menurunkan kadar kolesterol dalam darah:
Kandungan
allisin pada bawang putih dapat menurunkan kadar kolesterol karena memiliki
senyawa struktur dialil sulfide tidak jenuh sehingga dapat menurunkan kadar
NADP dan NADPH, allisin juga berkompetisi dengan asetat untuk mereduksi asetil
Ko A. Ekstrak bawang putih memiliki khasiat untuk menurunkan kadar kolesterol
dalam darah (Handali, 1988) (dalam Harjana 2011)..
Vitamin
C & E terbukti dapat menurunkan kolesterol, vitamin C memecah kolesterol
menjadi garam empedu dan asam untuk memudahkan pengeluaran dalam feces. Vitamin
E menghambat pembentukan skualen 2,3 okside bereaksi dengan oksigen untuk
membentuk alpha tokoferil kuinon untuk menurunkan kolesterol (Hastari
Wuryastuti, 1994:6) (dalam Harjana 2011).
PENUTUP
Kesimpulan
Data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) (dalam Listiyana 2013) tahun 2007 menyebutkan “bahwa kelompok usia
45-54 tahun beresiko tinggi terkena penyakit serangan jantung atau stroke”.
Yang paling banyak terkena stroke adalah orang yang mengidap gejala hipertensi
dan memiliki kadar kolesterol tinggi karena itu merupakan penyebab utama
terganggunya pembuluh darah.
DAFTAR
RUJUKAN
Ghani, L., Mihardja, L. K. & Delima (2016). Faktor Risiko
Dominan Penderita Stroke di Indonesia,
(Daring), (file:///C:/Users/10/Downloads/Documents/4949-8246-1-SM.pdf),
diakses tanggal 5 Januari 2016.
Harjana, T.
(2011). Kajian Tentang Potensi Bahan – Bahan Alami Untuk Menurunkan Kadar Kolesterol
Darah, (Daring), (file:///C:/Users/10/Downloads/Documents/Abstrak+KAJIAN+TENTAN G+POTENSI+BAHAN+ +BAHAN+ALAMI+UNTUK+MENURUNKAN+KADAR+KOLESTEr OL++DARAH.pdf), diakses tanggal 14
Mei 2011.
Khairatunnisa
& Sari, D. M. 2017. Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stroke Pada Pasien Di Rsu H. Sahudin
Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara,
(Daring), (file:///C:/Users/10/Downloads/Documents/962-2239- 1-PB.pdf), diakses Mei 2017.
Lingga, L. 2013.
All About Stroke Hidup Sebelum dan Pasca Stroke.Jakarta:PT Elex Media Komputindo.
Listiyana, A. D.
& Prameswari, M. G. N. (2013). Obesitas Sentral dan Kadar Kolesterol Darah Total, (Daring), (file:///C:/Users/10/Downloads/Documents/25401-ID-obesitas-sentral-dan- kadar-kolesterol-darah-total.pdf),
diakses Juli 2013.
Mianoki, A. 2014. Faktor Risiko Penyakit Stroke, (Daring), (https://kesehatanmuslim.com/faktor-risiko-penyakit-stroke/),
diakses tanggal 29 Agustus 2014.
Nastiti, O. A.
2016. Sistem Pakar Klasifikasi Stroke dengan Metode Naïve Bayes Classifier dan Certainty Factor Sebagai Alat
Bantu Diagnosis, (Daring), (file:///C:/Users/10/Downloads/Documents/50732.pdf),
diakses tanggal 20 Juli 2016.
Pinzon, R. &
Asanti, L. 2010. AWAS STROKE! Pengertian,
Gejala, Tindakan, Perawatan dan
Pencegahan. Penerbit Andi.
Rumahorbo,
M., Erlia, C., Jeane, Wahyuni, E. & Takarina, I. 2014. 60 Hal Tentang Perawatan Stroke di Rumah. Jakarta:
GAIA
Siagian, A.
(2007). Saatnya Memperhatikan Kesehatan Wanita Usia Menopause, (Daring), (file:///C:/Users/10/Downloads/Documents/6ca54-Saatnya- Memperhatikan-Kesehatan-Wanita-Usia-Menopause.pdf),
diakses tanggal 29 Desember 2007.
Soeharto, I.
(2002). Kolesterol & Lemak Jahat Kolesterol & Lemak Baik dan Proses Terjadinya. Jakarta:PT Gramedia Pustaka
Utama.
Sofwan, R. 2013.
Stroke dan Rehabilitasi Pasca-Stroke. Bhuana Ilmu Populer.
Utami, P. 2009.
Solusi Sehat Mengatasi Stroke. Jakarta:PT AgroMedia Pustaka.
Wardhani, N. R. & Martini, S. (2014). Faktor yang
Berhubungan Dengan Pengetahuan Tentang
Stroke pada Pekerja Institusi Pendidikan Tinggi, (Daring), (file:///C:/Users/10/Downloads/Documents/ipi306824.pdf), diakses tanggal 1 Januari 2014.
Yusuf, A. 2016. Bagaimana Cara Merawat Yang Baik Untuk Penderita Stroke, (Daring), (https://www.meetdoctor.com/question/bagaimana-cara- merawat-yang-baik-untuk-penderita-stroke),
diakses tanggal 23 Oktober 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar